Langsung ke konten utama

Bosan Menulis? Lakukan Terapi Ini Supaya Semangat Menulis Lagi



Akan ada saatnya penulis berada pada titik jenuh, sebuah kondisi bosan menulis. Merasa jenuh dan penat dengan layar, keyword atau pensil dan kertas dihadapan mereka.
Maka yang dibutuhkan dirinya adalah sebuah terapi, sedikit refreshing. Agar jemari beristirahat dari kerja panjang dan melelahkan itu, menulis. Supaya otak tidak terlalu tegang memikirkan langkah apa selanjutnya, karena ada benteng besar nan gelap bernama kejenuhan, yang (mungkin) menjelma writer’s block jangka panjang. Semoga jangan deh ya…
Untuk itu, mengutip ungkapan dari kakak kelas di suatu forum kepenulisan, “rayakanlah kemenanganmu dengan hal-hal kecil saja.”
Keren juga ungkapan diatas, jikapun tulisan kita belum mampu menembus penerbit mayor, koran lokal, koran atau media Nasional, atau memenangkan event menulis, atau belum menemukan pembaca..  maka rayakanlah. Lho, mengapa unsur yang berbau kekalahan justru dirayakan? Hei, kita ngga ngomong tentang kekalahan, tapi kemenangan yang justru kasat mata itu.
Kemenangan yang kadang tidak dirasakan penulisnya sendiri. Kemenangan karena telah sukses melahirkan sebuah tulisan. Saya sering seperti itu, tidak peka terhadap satu kemenangan dasar, kemenangan karena berhasil membuat tulisan. Justru terperangkap dan terkungkung pada rasa ketakutan, akhirnya menjadi takut menulis dengan alasan bosan.

Umumnya unsur yang berbau kekalahan, justru menjadi obat pembunuh jemari paling mujarab, menjadikan seseorang bosan dan malas untuk menulis satu kata pun. Berbahaya. Apalagi malah benci dan menghindari menulis. Wah, celaka tiga kali empat.
Cara merayakan kemenangan adalah memberi pikiran seluang waktu untuk  istirahat sejenak. Beberapa hari saja. Jangan terlalu lama. Tenangkan dahulu pikiran, habiskanlah tekanan. Tujuannya, agar dikemudian hari melahirkan karya-karya yang lebih fresh lagi, lebih baik dari sebelumnya. Lebih unik dari yang kemarin. Semoga.
Satu hal yang pasti, ketika kita behasil memposting atau mengirim sebuah tulisan, pada apapun itu: blog, lomba menulis, penerbit, media dan ekspektasi tidak mencapai realita,  rayakan saja kemenangan itu. Aku pun berbuat demikian. 
Rayakanlah, karena setidaknya kita telah melahirkan sebuah tulisan!
Banyak sekali cara merayakan kemenangan tersebut, sekaligus mempersiapkan amunisi lain, tulisan lain. Salah satu cara merayakannya yaitu jalan-jalan, membaca buku, menonton film, bermain game(tapi jangan terlalu lama, khawatir akan ketagihan), berdiksusi dan bercanda dengan teman atau sahabat, dan masih banyak lagi.

Hal-hal lainnya jika bosan menulis, aku akan diam sejenak. Berkontemplasi. Merenung. Melupakan masalah itu, mencari refreshing lain. Lalu setelah pikiran sudah adem, baru sprint lagi untuk menulis.
Setiap orang memiliki cara tersendiri membunuh rasa bosan dan kejenuhan itu, asalkan jangan sampai terserang writer’s block jangka panjang.

Yah, setidaknya itulah beberapa hal yang akan (dan sudah) saya lakukan kalau bosan untuk menulis, merayakan sedikit kemenangan. Yang penting rayakan dulu. Tulisan ini pun sengaja ditulis sebagai refleksi dan alarm khusus untuk saya, ketika bosan. Hehe.
Kalau kamu, bagaimana membunuh rasa bosan itu? 
Salam pena!
Bogor, 09 Maret 2019
N. A. Fadhli


Komentar

  1. Memberi hadiah pada diri sendiri memang penting ya mas Fadhli ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya penting banget bund... :)

      Memberikan apresiasi terhadap diri sendiri termasuk salah satu yang membangkitkan semangat juga. :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Per Tak Hingga dan Perenungannya

Semenjak menjadi siswa, selama belajar di SMA, saya hanya menyimak dan menelan setiap rumus beserta hasilnya. Pentingnya, jika bagian ini-itu hafal, beres sudah. Jarang sekali kepo, apalagi penasaran darimana dan bagaimana mengetahui prosesnya. Salah satu contoh yaitu dalam menghapal definisi sederhana, 1/~ , 1/0, 0/0, dan teman-temannya, plus perenungan memahami mereka. Namun, kali ini mencoba agar sama-sama dibahas 1/~ (satu per tak hingga) yang hasilnya adalah nol. Karena, mungkin banyak yang sudah tahu bahwa 1/0 nilainya bisa menjadi dua jenis, bisa menjadi ‘tak terdefinisi’ atau ‘tak hingga’. Contoh : 1/10 = 0,1 1/1000= 0,001 1/100000 = 0,00001 1/10000000 = 0,0000001 dst. Tapi, 1/~ = 0 Kenapa? Dari contoh sudah didapatkan pola, bahwa jika satu dibagi sepuluh, hasilnya 0,1. Dan, satu dibagi sepuluh juta, hasilnya 0,0000001. Semakin dibagi dengan bilangan besar, hasil semakin mendekati nol. Tak hingga merupakan sesuatu yang tak berbatas. Sehingga, satu d...

Ore Wa Akiramenai = Saya Tidak Akan Menyerah !

Donna ni tsurakutemo, akiramenaide kudasai! Akhirnya pikiran kembali segar, semangat menulis untuk posting di blog timbul lagi(padahal hari ini tidak semangat, tetapi terkena sentil oleh satu-dua kalimat bahasa Jepang). Sebabnya karena iseng-iseng mencari kata motivasi versi bahasa Jepang, justru menemukan pepatah keren, sekaligus pas dengan kondisi dan tontonan saya pekan ini. Yasudah, dijadikan sebagai pembuka tulisan deh. Bagi pecinta anime, pasti beberapa sudah tidak asing dengan istilah tersebut, pepatah yang menjadi jargon bagi mayoritas tokoh utama series anime. Hehe. Donna ni tsurakumeto, akiramenaide kudasai,  yang artinya  “Sesulit apapun, jangan menyerah!” Lalu disambung dengan judul postingan, Ore wa akiramenai , artinya  “Saya tidak akan menyerah!” Pepatah ini mungkin sudah tidak asing dan sangat sering berkeliaran ditelinga kita, apalagi ditelinga saya. Hehe. Sehingga, kesan dan energi kuat yang dibawa pepatah itu hanya angin saja. Cepat na...

Aku Hanya Ingin Menulis, Sesederhana Itu Saja

Aku hanya ingin menulis, sesederhana itu saja . Begitulah yang selalu kamu ungkapkan dan ucapkan. Kepada saya, yang masih baru. Kesekian kalinya saya ungkapkan, bahwa menulis memang sebuah tugas berat. Betapa tidak? Menghasilkan sebuah tulisan, jika ingin mencapai kualitas terbaik, haruslah memeras ide dan pikiran. Memutar segala pengetahuan, kepekaan, dan pengamatan mendalam tentang fokus yang akan ditulis. Kemudian, mulai menuliskan ide itu dalam beberapa proses.  Melalui tahap  editing  dan lainnya. Belum lagi, sebuah tulisan yang telah selesai itu, hanya diminati sedikit orang untuk dibaca.  How your feeling about that ? Sungguh, saya angkat topi dengan kebesaran jiwamu untuk tetap lanjut dan istiqomah dalam ranah kepenulisan ini. Saya ikut dan gabung. Boleh, kan? Aku hanya ingin menulis, sesederhana itu saja . Saya, sungguh.. sangat sepakat dengan pernyataan kamu itu. Izinkan saya mematri mantramu dalam benak saya. Agar merembas sampai alam b...

Hukum Matematika di dalam Puisi

Setelah diingat-ingat, dan ternyata.. hukum matematika juga dapat dianalogikan-disetarakan-dibandingkan di dalam hukum puisi. Pada materi yang saya pelajari dalam mata kuliah Analisis Model Empirik, banyak definisi-definisi yang jika digali pemahaman tentangnya, juga direnungi.. tentunya ada hubungan tafsir ke berbagai bidang. Salah satunya dunia literasi, khususnya puisi. “ Semua model salah, tapi ada satu model yang terbaik .” Itulah salah satu definisi yang telah diajarkan, dari banyak definisi tentang pemodelan. Semua model salah, karena memang tidak ada model yang benar-benar mirip dengan kejadian sesungguhnya suatu peristiwa. Satu hal yang mungkin, adalah jika model itu berisikan perhitungan-perhitungan, juga formula yang mendekati kejadian. Namun, tetap saja tidak akan pernah sama dengan aslinya. Seperti pada puisi. Seseorang yang menulis puisi, dengan membubuhkan kode-kode dan atau sesuatu kisah yang disembunyikan, akan menimbulkan banyak tafsir dari pembaca. Berb...

Satu Saran Terbaik: Teruslah Melakukan Kebaikan

Mengawali postingan kali ini, saya teringat pada QS. Al-Zalzalah ayat 7,  sesiapa yang melalukan kebaikan sekecil apapun niscaya akan melihat balasan baginya . Kurang lebih seperti itu arti terjemahan ayat tersebut. Ditambah, ingat salah satu video singkat dari seminar motivator prestasi “Anthony Robbins” tentang kunci kehidupan.  Beliau pernah dalam keadaan serba kekurangan. Saat itu hanya memiliki uang $25-$26. Terlebih, beliau pernah meminjamkan uang kepada temannya sebanyak $1200. Namun ketika sedang dibutuhkan, temannya belum memiliki uang untuk mengembalikan. Akhirnya beliau kecewa, marah, juga panik. Anthony datang ke sebuah tempat makan. Di sana, beliau melihat seorang anak laki-laki usia sekitar 7-8 tahun, membukakan pintu untuk ibunya, lalu menarik kursi tempat makan sang ibu. Anthony Robbins terkesan dengan sikap anak itu, padahal sang ibu memiliki wajah cantik. Tapi, Anthony lebih terpikat dengan si bocah, sebab perilakunya elegan di usia yang masih s...