Setelah diingat-ingat, dan
ternyata.. hukum matematika juga dapat dianalogikan-disetarakan-dibandingkan di
dalam hukum puisi.
Pada materi yang saya
pelajari dalam mata kuliah Analisis Model Empirik, banyak
definisi-definisi yang jika digali pemahaman tentangnya, juga direnungi..
tentunya ada hubungan tafsir ke berbagai bidang. Salah satunya dunia literasi,
khususnya puisi.
“Semua model salah, tapi
ada satu model yang terbaik.”
Itulah salah satu definisi
yang telah diajarkan, dari banyak definisi tentang pemodelan.
Semua model salah, karena
memang tidak ada model yang benar-benar mirip dengan kejadian sesungguhnya
suatu peristiwa. Satu hal yang mungkin, adalah jika model itu berisikan
perhitungan-perhitungan, juga formula yang mendekati kejadian. Namun, tetap
saja tidak akan pernah sama dengan aslinya.
Seperti pada puisi. Seseorang
yang menulis puisi, dengan membubuhkan kode-kode dan atau sesuatu kisah yang
disembunyikan, akan menimbulkan banyak tafsir dari pembaca. Berbagai tebakan isi
puisi yang ditafsir dari para pembaca bisa jadi salah, bisa jadi ada benarnya.
Tetapi, mungkin juga ada satu
penafsiran dari pembaca, terhadap suatu puisi, dan hampir mendekati persepsi
dan penafsiran si penulis.
Namun, tetap saja. Sedalam dan sedetail apapun penafsiran para pembaca terhadap puisi hasil ciptaan seseorang, biasanya tebakan mereka tidak pernah 100% sama dengan penafsiran si penulis. Karena memang, ada “something else” yang disembunyikan seorang penyair atas puisinya. Entah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Ditambah, seorang penyair
‘harusnya’ dan ‘memang harus’ untuk tidak memberikan penafsiran terhadap setiap
puisi yang ditulisnya. Karena, dengan membiarkan setiap pembaca hanyut dalam
menikmati persepsi lain, atau penafsiran lain dari puisinya, hal itu merupakan
salah satu kelebihan yang umumnya dimiliki seorang penyair.
Bogor, 06 Mei 2017
N. A. Fadhli
Habis ini langsung hitung-hitungan pakai puisi
BalasHapusWkwkwk... Msh belum terpikirkan kang. Tp akan dicoba nanti hehe.
Hapus