Akan ada saatnya penulis
berada pada titik jenuh, sebuah kondisi bosan menulis. Merasa jenuh dan penat dengan layar, keyword atau
pensil dan kertas dihadapan mereka.
Maka yang dibutuhkan dirinya adalah sebuah terapi, sedikit refreshing. Agar
jemari beristirahat dari kerja panjang dan melelahkan itu, menulis. Supaya otak
tidak terlalu tegang memikirkan langkah apa selanjutnya, karena ada benteng
besar nan gelap bernama kejenuhan, yang (mungkin) menjelma writer’s block jangka
panjang. Semoga jangan deh ya…
Untuk itu, mengutip ungkapan
dari kakak kelas di suatu forum kepenulisan, “rayakanlah kemenanganmu dengan
hal-hal kecil saja.”
Keren juga ungkapan diatas,
jikapun tulisan kita belum mampu menembus penerbit mayor, koran lokal, koran atau media Nasional, atau memenangkan event
menulis, atau belum menemukan pembaca.. maka rayakanlah. Lho, mengapa
unsur yang berbau kekalahan justru dirayakan? Hei, kita ngga ngomong tentang
kekalahan, tapi kemenangan yang justru kasat mata itu.
Kemenangan yang kadang tidak dirasakan penulisnya sendiri.
Kemenangan karena telah sukses melahirkan sebuah tulisan. Saya sering seperti
itu, tidak peka terhadap satu kemenangan dasar, kemenangan karena berhasil membuat tulisan.
Justru terperangkap dan terkungkung pada rasa ketakutan, akhirnya menjadi takut menulis
dengan alasan bosan.
Umumnya unsur yang berbau
kekalahan, justru menjadi obat pembunuh jemari paling mujarab, menjadikan seseorang bosan
dan malas untuk menulis satu kata pun. Berbahaya. Apalagi malah benci dan
menghindari menulis. Wah, celaka tiga kali empat.
Cara merayakan kemenangan adalah memberi pikiran seluang waktu untuk istirahat sejenak. Beberapa
hari saja. Jangan terlalu lama. Tenangkan dahulu pikiran, habiskanlah tekanan. Tujuannya, agar
dikemudian hari melahirkan karya-karya yang lebih fresh lagi, lebih baik dari
sebelumnya. Lebih unik dari yang kemarin. Semoga.
Satu hal yang pasti, ketika
kita behasil memposting atau mengirim sebuah tulisan, pada apapun itu: blog, lomba menulis, penerbit, media dan ekspektasi tidak mencapai
realita, rayakan saja kemenangan itu. Aku pun berbuat demikian.
Rayakanlah, karena setidaknya kita telah melahirkan sebuah tulisan!
Banyak sekali cara merayakan kemenangan tersebut, sekaligus
mempersiapkan amunisi lain, tulisan lain. Salah satu cara merayakannya yaitu
jalan-jalan, membaca buku, menonton film, bermain game(tapi jangan terlalu lama, khawatir akan ketagihan),
berdiksusi dan bercanda dengan teman atau sahabat, dan masih banyak lagi.
Hal-hal lainnya jika bosan menulis, aku
akan diam sejenak. Berkontemplasi. Merenung. Melupakan masalah itu, mencari refreshing
lain. Lalu setelah pikiran sudah adem, baru sprint lagi untuk menulis.
Setiap orang memiliki cara tersendiri membunuh rasa bosan dan
kejenuhan itu, asalkan jangan sampai terserang writer’s block jangka
panjang.
Yah, setidaknya itulah
beberapa hal yang akan (dan sudah) saya lakukan kalau bosan untuk menulis,
merayakan sedikit kemenangan. Yang penting rayakan dulu. Tulisan ini pun
sengaja ditulis sebagai refleksi dan alarm khusus untuk saya, ketika bosan. Hehe.
Kalau kamu, bagaimana
membunuh rasa bosan itu?
Salam pena!
Bogor, 09 Maret 2019
N. A. Fadhli
Memberi hadiah pada diri sendiri memang penting ya mas Fadhli ^^
BalasHapusIya penting banget bund... :)
HapusMemberikan apresiasi terhadap diri sendiri termasuk salah satu yang membangkitkan semangat juga. :D
Mantap
BalasHapusNuhun, kang Arief..
Hapus