Langsung ke konten utama

Mengapa Saya Ingin Menjadi Penulis?




Awalnya, saya benar-benar tidak paham tentang dunia kepenulisan. Bagaimana seseorang dapat menulis dengan kata-kata yang begitu mengalir, dibubuhi diksi ringan dan renyah, serta sarat hikmah.
Saya kagum, terhadap kecerdasan seorang cerpenis dalam membuat suatu rangkaian cerita yang utuh dan singkat, namun penuh pesan moral. Bahkan ada satu kisah yang dibawa pulang ingatan pembaca.
Bagaimana kepiawaian seorang penyair dalam menyampaikan pesan dan perasaan, terangkum hanya melalui beberapa bait saja.
Juga kagum, terhadap kedisiplininan serta ketangguhan seorang novelis dalam menciptakan sebuah mahakarya yang mengandung cerita kompleks. Namun, di warnai dengan diksi dan narasi indah, membuat mata mampu melahap habis ratusan halaman.
Tak terkecuali, kekaguman saya pun meliputi mereka yang aktif menulis artikel, buku non fiksi, dongeng dan tulisan lainnya. Mereka adalah serumpun orang ‘keren’ dalam kacamata persepsi saya.
Definisi menulis bagi saya adalah luapan emosi yang dituangkan dalam bentuk narasi, atau syair sampai menjelma karya abadi, sebuah tulisan. Selain amal perbuatan dan amal jariyah, tulisan merupakan salah satu wujud eksistensi seseorang selama masih hidup, ataupun sudah meninggal dunia.
Sebuah tulisan dapat mengubah perilaku dan persepsi seseorang, mempermainkan emosi pembaca, serta dapat mengubah suatu peradaban.
Marilah ingatan kita berangkat ke ribuan tahun silam, tentang kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Syahdan, di sebuah negeri Saba’ (sekarang Yaman) terdapat tanah subur serta rakyat makmur yang dipimpin oleh Ratu Balqis. Sayangnya, mereka semua tidak menyembah Allah. Kemudian, Nabi Sulaiman mendengar berita itu dari burung Hud-Hud, lalu menulis surat dan mengirimkan kepada Ratu Balqis beserta rakyatnya agar menyembah Allah. Ratu Balqis menyetujui, bersama rakyatnya, ia pun menyembah Allah.
Sungguh, betapa dahsyat dan besar pengaruh sebuah tulisan bagi perubahan suatu peradaban. Atau, perubahan dalam hal apapun di muka bumi. Ia nya bagai peluru yang dapat menembus jutaan kepala dalam sekali tembak, hanya dengan satu tulisan.
Namun, jika sebuah tulisan masih belum mampu menemui pembaca, saya selalu yakin, bahwa setiap tulisan memiliki takdir untuk dibaca.
Adanya keinginan menjadi penulis, sekaligus bergabung dalam beberapa grup kepenulisan adalah agar terus belajar dan tumbuh di ranah kepenulisan. Tidak bosan melatih kedisiplinan dalam menulis. Menebar sebanyak apapun butir manfaat, dan semoga penuh hikmah. Juga sebagai cermin introspeksi dan evaluasi diri.
Sampai pada akhirnya, biarkan menulis menjadi jubah yang tak ingin dilepas, hingga kematian sendiri yang melepaskannya.
Salam Pena !

Bogor, 26 September 2016
N. A. Fadhli


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ore Wa Akiramenai = Saya Tidak Akan Menyerah !

Donna ni tsurakutemo, akiramenaide kudasai! Akhirnya pikiran kembali segar, semangat menulis untuk posting di blog timbul lagi(padahal hari ini tidak semangat, tetapi terkena sentil oleh satu-dua kalimat bahasa Jepang). Sebabnya karena iseng-iseng mencari kata motivasi versi bahasa Jepang, justru menemukan pepatah keren, sekaligus pas dengan kondisi dan tontonan saya pekan ini. Yasudah, dijadikan sebagai pembuka tulisan deh. Bagi pecinta anime, pasti beberapa sudah tidak asing dengan istilah tersebut, pepatah yang menjadi jargon bagi mayoritas tokoh utama series anime. Hehe. Donna ni tsurakumeto, akiramenaide kudasai,  yang artinya  “Sesulit apapun, jangan menyerah!” Lalu disambung dengan judul postingan, Ore wa akiramenai , artinya  “Saya tidak akan menyerah!” Pepatah ini mungkin sudah tidak asing dan sangat sering berkeliaran ditelinga kita, apalagi ditelinga saya. Hehe. Sehingga, kesan dan energi kuat yang dibawa pepatah itu hanya angin saja. Cepat na...

Jujur, Mayoritas Karya saya Lahir dari Sini...

Setiap orang memiliki ciri khas, style dan metode-metode yang berbeda-beda, sehingga metode tersebut membuat mereka nyaman dalam melakukan sesuatu. Menjadi penulis, berarti tidak boleh jauh dari gadget (laptop/PC, ponsel, dan lainnya) atau mungkin kertas dan pena, sebagai logistik yang memproduksi berbagai karya. Mereka sadar bahwa(umumnya), laptop adalah aset berjalan yang harus menemani kapanpun ide segar berdatangan, bertamu dalam pikiran. Saya justru tipikal yang tidak betah kalau mengetik di laptop/PC. Lebih nyaman menggerakan jemari di layar touchscreen ponsel. Karena memiliki mobilitas tinggi dalam kebersamaannya dengan si pengguna. Selain itu, tipe seperti saya, menulis di ponsel lebih efektif dan efisien. Keberadaannya memiliki banyak keuntungan tersendiri, seperti : 1.  Bisa menggunakan aplikasi menulis di ponsel Ada banyak sekali aplikasi menulis yang bisa dimanfaatkan, salah satunya aplikasi ColorNote, dapat dengan mudah diunggah. Tampilan ColorNote terse...

Satu Per Tak Hingga dan Perenungannya

Semenjak menjadi siswa, selama belajar di SMA, saya hanya menyimak dan menelan setiap rumus beserta hasilnya. Pentingnya, jika bagian ini-itu hafal, beres sudah. Jarang sekali kepo, apalagi penasaran darimana dan bagaimana mengetahui prosesnya. Salah satu contoh yaitu dalam menghapal definisi sederhana, 1/~ , 1/0, 0/0, dan teman-temannya, plus perenungan memahami mereka. Namun, kali ini mencoba agar sama-sama dibahas 1/~ (satu per tak hingga) yang hasilnya adalah nol. Karena, mungkin banyak yang sudah tahu bahwa 1/0 nilainya bisa menjadi dua jenis, bisa menjadi ‘tak terdefinisi’ atau ‘tak hingga’. Contoh : 1/10 = 0,1 1/1000= 0,001 1/100000 = 0,00001 1/10000000 = 0,0000001 dst. Tapi, 1/~ = 0 Kenapa? Dari contoh sudah didapatkan pola, bahwa jika satu dibagi sepuluh, hasilnya 0,1. Dan, satu dibagi sepuluh juta, hasilnya 0,0000001. Semakin dibagi dengan bilangan besar, hasil semakin mendekati nol. Tak hingga merupakan sesuatu yang tak berbatas. Sehingga, satu d...

Cerpen Motivasi: Sesuai Permintaanmu, Aku akan Bersamanya

“Pergilah, tidak usah memanggilku. Apalagi untuk mengundang tangis di matamu.” “Tapi, kita masih bisa bertemu lagi, kan?” “Bisa. Asalkan kamu memilih dia yang dapat menjadikanmu bahagia dan selalu membuat semangatmu  berkobar. Itu saja. Sisanya, tolong jangan panggil aku. Apalagi memanggil kesedihan-kesedihan yang pernah kita rasakan.” “Aku ingin selalu bersamamu. Denganmu, aku merasakan banyak hal. Sedih, senang, semangat, letih, semua perasaan yang belum pernah kutemui jika bersama yang lain.” “Selalu ada, dan masih akan terus ada...  yang lebih baik dariku. Pergilah bersamanya. Sudah saatnya kau bersama dia.” “Jika aku pergi, apakah kamu akan sendirian?” “Percayalah, aku akan selalu ramai dikunjungi peristiwa tentangmu, yang akan menjadi kenangan dan aku. Bahkan selepas kepergianmu, pengunjung yang mendatangiku, akan selalu lebih ramai. Setiap hari, jam, menit, bahkan detiknya.” "Terimakasih atas pengertianmu. Aku akan meninggalkanmu dengan damai. Meskip...

Dua Teorema Dasar Tentang Cinta: Sejatinya Cinta Tidak Pernah Nol

Cinta , makhluk paling abstrak yang takkan pernah ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Kehadiran cinta selalu membersamai awal dan akhir kehidupan. Cinta tentang apa saja, dalam hal apa saja. Bahkan, kehidupan pertama manusia yang lahir ke dunia dikarenakan oleh Cinta-Nya. Ramai orang mengubah dunia; mencatatkan nama mereka dalam tinta emas peradaban, karena bermodalkan  anugerah indah  tersebut. Selain itu, bertumpuk buku lahir memadati perpustakaan dunia, karena dan tentang cinta. “ Tinggalkan seseorang yang sedang dalam luapan cinta bersama pena dan kolam tinta. Tunggulah hingga lahir ratusan cerita, yang akan menjadi kisah romansa paling bersejarah .” (N. A. Fadhli, 2017) teorema cinta itu ada banyak, yang kutahu baru dua . (N. A. Fadhli, 2017) Teorema Pertama Cinta. Jika satu saja, cinta itu sudahlah cukup untuk menampung dan menebar energi kehidupan. Teorema pertama ini pun, sifatnya sangat fleksibel. Karena suatu saat akan bertransformasi menjadi teore...