Dari sekian ribu detik yang
singgah dan berlalu, diantara kebisingan hingga kesunyian, aku baru tersadar.
Ini tentang menulis, dunia
kepenulisan, something to tell, atau something to share atau
apapun yang mereka sabdakan.
Bahwa keresahan-keresahan
yang selama ini begitu mengiris hati dan perasaan, entah kisah pribadi atau
pengalaman orang lain, semua harus tumpah dalam satu wadah besar bernama
“Tulisan”.
Entah dibukukan atau tidak,
itu urusan belakangan. Yang utama ada di situ, dan memang datang dari tempat
yang suci itu, sebuah hasrat untuk berbagi kepada sesama.
Memang, terkadang begitu
sulit menyampaikan kisah paling epik. Satu set cerita yang akan dikenang.
Apalagi yang bermanfaat. Apalagi dapat memberi pengaruh besar bagi seseorang,
bagi banyak orang, hingga akhirnya mengubah peradaban.
Maka dari itu, kuyakin kini
kita sedang berlatih menulis. Dan kita adalah penulis. Percayalah!
kamu, aku dan kita semua berada dalam satu ruang besar bernama “Jurnal Seorang Penulis”.
Nama kita tercatat di dalamnya. Kita sebenarnya sedang menulis.
Lengkap bersama pena dan berlembar kertas.
Dan yang paling dasar dari itu semua adalah... kita sedang menulis kisah kita masing-masing. Pada halaman-halaman yang tak luput dari kesaksian. Pada halaman sebelumnya yang mungkin masih bisa direvisi pada halaman depan, lembar-lembar setelahnya.
Kemudian kita tergugah untuk
menuliskan kisah baru, agar dapat dibaca seseorang, menjangkau lebih banyak
orang.
Aku masih belum bisa
membagikan sebuah kisah. Sebab perjuanganku, kisah ini masih panjang --diantara
waktu yang semakin sempit-- , masih banyak kisah yang harus “kubenahi”. Tapi aku
berjanji, suatu saat akan menuliskan sebuah kisah. Ini sebuah janji.
Mungkin kau telah matang dan
siap untuk bercerita. Kau telah tunai membungkus satu set cerita. Siap
membagikan kepada banyak orang, menjangkau lebih banyak lagi. Tunggu apa lagi? Segera tulis dan bagikan kisahmu, agar kebaikan-kebaikan itu segera tersebar luas.
Dan kau lagi-lagi, hingga
bosan, mengingatkanku, bahwa kisah kita sesungguhnya baru dimulai ketika lembar
terakhir menyelesaikan tugasnya. Maka dari itu, kau terus menyemangatiku agar
terus menulis. Selalu berupaya memberikan kisah epik pada berapapun halaman,
agar mendapatkan ending terbaik.
Bogor, November 2017
N. A. Fadhli
Siapa yang menyemangatimu utk menulis kakak?
BalasHapusSi itu tuh kak Cili... Perempuan gerimis.. :D
HapusTulisan mas Fadhli makin keren. Tetap semangat ya ^^
BalasHapusAlhamdulillah, terima kasih mba Nov..
HapusTapi masih belum sekeren mba nov dan blogger2 senior ODOP.
Mohon bimbingan :)