Manusia hakekatnya adalah
makhluk sosial. Habluminannas, sebuah perintah langsung dari
langit, bersamaan dengan komando untuk ber Habluminallah. Membuat
manusia saling terikat dalam hubungan bermasyarakat, termasuk didalamnya
berteman.
Memiliki banyak teman
merupakan tindakan bijak, apalagi mereka adalah sekumpulan orang baik. Justru,
baik buruknya perilaku seseorang atau sekumpulan teman, berpengaruh terhadap
pola pikir, kadar antusiasme, juga masa depan kita.
Beruntungnya jika kita memiliki
banyak teman baik. Kadang, selalu saja diberikan alarm peringatan, demi kebaikan
diri kita. Seperti sepenggal pengalaman sepele yang saya alami tadi siang, juga
merupakan keteledoran saya sendiri.
Selepas dzuhur, saya membuka
grup media sosial WhatsApp, kemudian melihat banyak info lowongan kerja. Karena
banyaknya info loker yang harus di passing atau forward ke grup
sebelah, biasanya saya teruskan saja ke beberapa grup yang
anggotanya banyak membutuhkan info demikian.
Tak lama, muncul notifikasi
dari satu-dua teman atau adik kelas chatting ke saya, bertanya tentang valid
nya info loker tersebut.
Namun ada satu pesan yang
sangat peka, terlebih terhadap persoalan yang menyangkut agama.
A : Lu yakin nyebarin info loker itu?
Saya : Yap, dapet dari
grup sebelah, bang.
A : Ngerti bahayanya
riba kan dli?
Saya : iya bang.
A : Ngapain lu share
gituan.
Saya : Bingung ane juga...
Temen-temen butuh loker
A : Ya itu urusan dia
dli. Gua ga pernah nyaranin.
Saya : Tapi kita emang udah dikelilingi riba, bang. Sulit lepas.
A : Justru karena itu.
Jangan di perparah.
Saya : siap bang.
Nuhun.
Terkadang, sikap acuh tak acuh
kita, keteledoran, kelalaian, atau lupa yang keterlaluan, bahkan kesengajaan
tingkat akut, semua itu bisa berdampak buruk bagi orang lain dalam jangka
panjang. Seperti keteledoran saya dalam kasus di atas.
Takkan pernah dan tidak akan
pernah merugi memiliki teman yang baik. Saya semakin meyakini hal tersebut. Mereka tidak terlalu mengkhawatirkan jangka pendek, tapi lebih memikirkan nasib kita untuk jangka panjang.
Teman terbaik, adalah mereka
yang paling pertama menegur kita ketika salah. Bukan mereka yang selalu berada
di garda depan memuji kelebihan kita, namun menghilang ketika kita dalam
keterpurukan dan terjerumus pada kekhilafan.
Teman terbaik bukan yang
paling sering menemani ketika kita dalam kebahagiaan dan kemakmuran. Mereka
adalah insan-insan spesial yang justru hadir, mengulurkan tangan, tanpa
mengendurkan senyum. Memotivasi serta menawarkan pertolongan ketika dalam
kekurangan, bahkan mungkin saat kondisi kita dalam ketiadaan.
Bogor, Juli 2017
N. A. Fadhli
Komentar
Posting Komentar