Langsung ke konten utama

Aku Hanya Ingin Menulis, Sesederhana Itu Saja


Aku hanya ingin menulis, sesederhana itu saja.

Begitulah yang selalu kamu ungkapkan dan ucapkan. Kepada saya, yang masih baru.
Kesekian kalinya saya ungkapkan, bahwa menulis memang sebuah tugas berat. Betapa tidak? Menghasilkan sebuah tulisan, jika ingin mencapai kualitas terbaik, haruslah memeras ide dan pikiran. Memutar segala pengetahuan, kepekaan, dan pengamatan mendalam tentang fokus yang akan ditulis.

Kemudian, mulai menuliskan ide itu dalam beberapa proses.  Melalui tahap editing dan lainnya. Belum lagi, sebuah tulisan yang telah selesai itu, hanya diminati sedikit orang untuk dibaca. How your feeling about that?
Sungguh, saya angkat topi dengan kebesaran jiwamu untuk tetap lanjut dan istiqomah dalam ranah kepenulisan ini. Saya ikut dan gabung. Boleh, kan?
Aku hanya ingin menulis, sesederhana itu saja.

Saya, sungguh.. sangat sepakat dengan pernyataan kamu itu. Izinkan saya mematri mantramu dalam benak saya. Agar merembas sampai alam bawah sadar. Lalu menghayatinya setiap detik dan setiap detak. Supaya menulis lebih terasa ringan, easy going aja.

Aku hanya ingin menulis, sesederhana itu saja.

Dengan begitu, kita lebih lega dalam menulis. Tidak terbebankan apapun.  Bagaimana jika menyinggung isi dan pesan tulisan? Biarkan tulisan merefleksikan tentang kita. Biarkan tulisan berbicara tentang kita, dan segala keresahan.
Biarlah tulisan kita tidak dibaca. Bahkan jauh terasingkan. Tak mengapa. Karena penulis, sudah lebih dahulu tenggelam dalam keterasingan membungkus cerita, membuat sebuah tulisan. Yakinlah, pembaca sendiri yang akan berlari menemukan tulisan kita. Mengerti dan memahami keterasingan itu.
Dan kamu, tidak terlalu memperdulikan mereka tentang tulisamu. Karena inginmu memang satu dan cuma itu melulu.

Hanya ingin menulis. sesederhana itu saja. Benar, kan?


Salam Pena!

Bogor, 20 Oktober 2016

N. A. Fadhli

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Per Tak Hingga dan Perenungannya

Semenjak menjadi siswa, selama belajar di SMA, saya hanya menyimak dan menelan setiap rumus beserta hasilnya. Pentingnya, jika bagian ini-itu hafal, beres sudah. Jarang sekali kepo, apalagi penasaran darimana dan bagaimana mengetahui prosesnya. Salah satu contoh yaitu dalam menghapal definisi sederhana, 1/~ , 1/0, 0/0, dan teman-temannya, plus perenungan memahami mereka. Namun, kali ini mencoba agar sama-sama dibahas 1/~ (satu per tak hingga) yang hasilnya adalah nol. Karena, mungkin banyak yang sudah tahu bahwa 1/0 nilainya bisa menjadi dua jenis, bisa menjadi ‘tak terdefinisi’ atau ‘tak hingga’. Contoh : 1/10 = 0,1 1/1000= 0,001 1/100000 = 0,00001 1/10000000 = 0,0000001 dst. Tapi, 1/~ = 0 Kenapa? Dari contoh sudah didapatkan pola, bahwa jika satu dibagi sepuluh, hasilnya 0,1. Dan, satu dibagi sepuluh juta, hasilnya 0,0000001. Semakin dibagi dengan bilangan besar, hasil semakin mendekati nol. Tak hingga merupakan sesuatu yang tak berbatas. Sehingga, satu d...

Ore Wa Akiramenai = Saya Tidak Akan Menyerah !

Donna ni tsurakutemo, akiramenaide kudasai! Akhirnya pikiran kembali segar, semangat menulis untuk posting di blog timbul lagi(padahal hari ini tidak semangat, tetapi terkena sentil oleh satu-dua kalimat bahasa Jepang). Sebabnya karena iseng-iseng mencari kata motivasi versi bahasa Jepang, justru menemukan pepatah keren, sekaligus pas dengan kondisi dan tontonan saya pekan ini. Yasudah, dijadikan sebagai pembuka tulisan deh. Bagi pecinta anime, pasti beberapa sudah tidak asing dengan istilah tersebut, pepatah yang menjadi jargon bagi mayoritas tokoh utama series anime. Hehe. Donna ni tsurakumeto, akiramenaide kudasai,  yang artinya  “Sesulit apapun, jangan menyerah!” Lalu disambung dengan judul postingan, Ore wa akiramenai , artinya  “Saya tidak akan menyerah!” Pepatah ini mungkin sudah tidak asing dan sangat sering berkeliaran ditelinga kita, apalagi ditelinga saya. Hehe. Sehingga, kesan dan energi kuat yang dibawa pepatah itu hanya angin saja. Cepat na...

Doa tentang dia, sampai tentang DIA

Mungkin doa-doa dan harapan kita tentang dia, bertuliskan nama yang salah. Tidak apa-apa, bukan kita yang salah. Bukan juga dia yang salah. Dan tidak ada yang perlu disalahkan. Terkadang, bukan doa-doa kita yang salah. Bukan pula harapan-harapan atau ekspektasi tentang dia, yang mungkin terlalu tinggi. Tidak apa-apa menaruh harapan tinggi, bagus sekali malah. Selama diiringi sebening niat, ikhtiar yang ikhlas nan besar, setara nilainya dengan ekspektasi-ekspektasi itu. Bukan pula salah waktu, atau detik yang pernah menyatukan pertemuan. Mereka tidak pernah salah, karena setiap milidetik kejadian sudah terjadwal dalam Kitab Langit Paling Taat. Lagi-lagi, tidak ada yang perlu disalahkan. Kita tidak perlu memaki atau mengutuk masa lalu. Karena mereka telah menjadi kenangan. Justru kita selayaknya berterima kasih, karena mereka berkenan menjadi tumpuan langkah-langkah kita menuju masa sekarang, menuju hari ini, dan ribuan hari berikutnya. Semoga. Sekali lagi, tidak ada yang...