Langsung ke konten utama

Rival Abadi Kehidupan : Optimisme Vs Pesimisme




Optimisme adalah salah satu bahan bakar yang unlimited, but like a ghost. Orang-orang besar yang telah mengubah dan mengendalikan dunia, tidak terlepas dari sifat ini. Pasti semuanya, orang-orang sukses itu memiliki karakter ini. Beberapa diantaranya telah mengikat sifat positif tersebut menjadi sebuah kendaraan dalam mencapai berbagai tujuan.

Sikap optimis, merupakan suatu perilaku yang membuat seseorang lebih percaya diri dari perhitungan kemungkinan atau peluang diatas kertas.

Seseorang yang memiliki sifat optimis, sudah berpijak tiga sampai lima langkah dari orang-orang yang masih bimbang dalam mengambil keputusan, disebabkan karena 0,01% keraguan. Sementara para pendekar optimis, lebih dahulu melaju dalam medan perjuangan dan ribuan rintangan. Walaupun mereka tahu, bahwa kesempatan untuk menang sangat kecil, mungkin hanya 1%, atau lebih kecil lagi. Tetapi angka-angka itu merupakan harapan, yang akhirnya membakar saraf-saraf lain hingga lahirlah optimisme.
Berbeda dengan lawan tangguhnya, pesimisme, sikap yang gampang menyerah dan mudah digenggam oleh keputusasaan. Satu sikap ini adalah pembunuh “jati diri pejuang” yang ada pada setiap orang. Sedikit dosisnya adalah racun bagi masa depan yang meminumnya.

Sikap pesimis lebih mudah menyebar layaknya sebuah virus internet. Meresap melalui setiap celah website dan merusak setiap inci jendela dunia. Ya… pesimis, virus paling tragis.
Efek dari virus yang satu ini sangatlah berkhasiat, dijamin paten. Cukup celupkan satu tetes dosisnya pada cangkir seseorang yang sedang dalam bimbang dan kebingungan, kemudian ceritakan tentang kelemahan dan berbagai kekurangannya. Jangan pergi, apalagi menunggu, karena tidak sampai sepuluh detik ia akan meminum racun dalam cangkir itu. Kemudian berjalan di dunia yang penuh kegelapan. Hingga langit-langit dalam pandangannya begitu kelam, jalanan di depannya terlalu berkerikil, sampai kuku dan bahkan jemarinya perlahan luntur. Ia terlalu khawatir merangkul mimpi. Terlalu takut menggenggam sesuatu, atau seseorang.
Tidak ada pemenang diantara duel ini, Pesimisme versus Optimisme. Mereka akan terus menjadi rival yang abadi. Karena pemenangnya bukan salah satu dari mereka, melainkan diri kita sendiri. Tergantung seberapa kuat energi positif atau negatif dalam diri kita untuk menarik salah satu diantara mereka.

Tangerang Selatan, 08 Maret 2019

N. A. Fadhli


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ore Wa Akiramenai = Saya Tidak Akan Menyerah !

Donna ni tsurakutemo, akiramenaide kudasai! Akhirnya pikiran kembali segar, semangat menulis untuk posting di blog timbul lagi(padahal hari ini tidak semangat, tetapi terkena sentil oleh satu-dua kalimat bahasa Jepang). Sebabnya karena iseng-iseng mencari kata motivasi versi bahasa Jepang, justru menemukan pepatah keren, sekaligus pas dengan kondisi dan tontonan saya pekan ini. Yasudah, dijadikan sebagai pembuka tulisan deh. Bagi pecinta anime, pasti beberapa sudah tidak asing dengan istilah tersebut, pepatah yang menjadi jargon bagi mayoritas tokoh utama series anime. Hehe. Donna ni tsurakumeto, akiramenaide kudasai,  yang artinya  “Sesulit apapun, jangan menyerah!” Lalu disambung dengan judul postingan, Ore wa akiramenai , artinya  “Saya tidak akan menyerah!” Pepatah ini mungkin sudah tidak asing dan sangat sering berkeliaran ditelinga kita, apalagi ditelinga saya. Hehe. Sehingga, kesan dan energi kuat yang dibawa pepatah itu hanya angin saja. Cepat na...

Jujur, Mayoritas Karya saya Lahir dari Sini...

Setiap orang memiliki ciri khas, style dan metode-metode yang berbeda-beda, sehingga metode tersebut membuat mereka nyaman dalam melakukan sesuatu. Menjadi penulis, berarti tidak boleh jauh dari gadget (laptop/PC, ponsel, dan lainnya) atau mungkin kertas dan pena, sebagai logistik yang memproduksi berbagai karya. Mereka sadar bahwa(umumnya), laptop adalah aset berjalan yang harus menemani kapanpun ide segar berdatangan, bertamu dalam pikiran. Saya justru tipikal yang tidak betah kalau mengetik di laptop/PC. Lebih nyaman menggerakan jemari di layar touchscreen ponsel. Karena memiliki mobilitas tinggi dalam kebersamaannya dengan si pengguna. Selain itu, tipe seperti saya, menulis di ponsel lebih efektif dan efisien. Keberadaannya memiliki banyak keuntungan tersendiri, seperti : 1.  Bisa menggunakan aplikasi menulis di ponsel Ada banyak sekali aplikasi menulis yang bisa dimanfaatkan, salah satunya aplikasi ColorNote, dapat dengan mudah diunggah. Tampilan ColorNote terse...

Satu Per Tak Hingga dan Perenungannya

Semenjak menjadi siswa, selama belajar di SMA, saya hanya menyimak dan menelan setiap rumus beserta hasilnya. Pentingnya, jika bagian ini-itu hafal, beres sudah. Jarang sekali kepo, apalagi penasaran darimana dan bagaimana mengetahui prosesnya. Salah satu contoh yaitu dalam menghapal definisi sederhana, 1/~ , 1/0, 0/0, dan teman-temannya, plus perenungan memahami mereka. Namun, kali ini mencoba agar sama-sama dibahas 1/~ (satu per tak hingga) yang hasilnya adalah nol. Karena, mungkin banyak yang sudah tahu bahwa 1/0 nilainya bisa menjadi dua jenis, bisa menjadi ‘tak terdefinisi’ atau ‘tak hingga’. Contoh : 1/10 = 0,1 1/1000= 0,001 1/100000 = 0,00001 1/10000000 = 0,0000001 dst. Tapi, 1/~ = 0 Kenapa? Dari contoh sudah didapatkan pola, bahwa jika satu dibagi sepuluh, hasilnya 0,1. Dan, satu dibagi sepuluh juta, hasilnya 0,0000001. Semakin dibagi dengan bilangan besar, hasil semakin mendekati nol. Tak hingga merupakan sesuatu yang tak berbatas. Sehingga, satu d...

Cerpen Motivasi: Sesuai Permintaanmu, Aku akan Bersamanya

“Pergilah, tidak usah memanggilku. Apalagi untuk mengundang tangis di matamu.” “Tapi, kita masih bisa bertemu lagi, kan?” “Bisa. Asalkan kamu memilih dia yang dapat menjadikanmu bahagia dan selalu membuat semangatmu  berkobar. Itu saja. Sisanya, tolong jangan panggil aku. Apalagi memanggil kesedihan-kesedihan yang pernah kita rasakan.” “Aku ingin selalu bersamamu. Denganmu, aku merasakan banyak hal. Sedih, senang, semangat, letih, semua perasaan yang belum pernah kutemui jika bersama yang lain.” “Selalu ada, dan masih akan terus ada...  yang lebih baik dariku. Pergilah bersamanya. Sudah saatnya kau bersama dia.” “Jika aku pergi, apakah kamu akan sendirian?” “Percayalah, aku akan selalu ramai dikunjungi peristiwa tentangmu, yang akan menjadi kenangan dan aku. Bahkan selepas kepergianmu, pengunjung yang mendatangiku, akan selalu lebih ramai. Setiap hari, jam, menit, bahkan detiknya.” "Terimakasih atas pengertianmu. Aku akan meninggalkanmu dengan damai. Meskip...

Dua Teorema Dasar Tentang Cinta: Sejatinya Cinta Tidak Pernah Nol

Cinta , makhluk paling abstrak yang takkan pernah ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Kehadiran cinta selalu membersamai awal dan akhir kehidupan. Cinta tentang apa saja, dalam hal apa saja. Bahkan, kehidupan pertama manusia yang lahir ke dunia dikarenakan oleh Cinta-Nya. Ramai orang mengubah dunia; mencatatkan nama mereka dalam tinta emas peradaban, karena bermodalkan  anugerah indah  tersebut. Selain itu, bertumpuk buku lahir memadati perpustakaan dunia, karena dan tentang cinta. “ Tinggalkan seseorang yang sedang dalam luapan cinta bersama pena dan kolam tinta. Tunggulah hingga lahir ratusan cerita, yang akan menjadi kisah romansa paling bersejarah .” (N. A. Fadhli, 2017) teorema cinta itu ada banyak, yang kutahu baru dua . (N. A. Fadhli, 2017) Teorema Pertama Cinta. Jika satu saja, cinta itu sudahlah cukup untuk menampung dan menebar energi kehidupan. Teorema pertama ini pun, sifatnya sangat fleksibel. Karena suatu saat akan bertransformasi menjadi teore...