Langsung ke konten utama

Ore Wa Akiramenai = Saya Tidak Akan Menyerah !



Donna ni tsurakutemo, akiramenaide kudasai!
Akhirnya pikiran kembali segar, semangat menulis untuk posting di blog timbul lagi(padahal hari ini tidak semangat, tetapi terkena sentil oleh satu-dua kalimat bahasa Jepang).
Sebabnya karena iseng-iseng mencari kata motivasi versi bahasa Jepang, justru menemukan pepatah keren, sekaligus pas dengan kondisi dan tontonan saya pekan ini. Yasudah, dijadikan sebagai pembuka tulisan deh.
Bagi pecinta anime, pasti beberapa sudah tidak asing dengan istilah tersebut, pepatah yang menjadi jargon bagi mayoritas tokoh utama series anime. Hehe.
Donna ni tsurakumeto, akiramenaide kudasai, yang artinya “Sesulit apapun, jangan menyerah!”
Lalu disambung dengan judul postingan,
Ore wa akiramenai, artinya “Saya tidak akan menyerah!”
Pepatah ini mungkin sudah tidak asing dan sangat sering berkeliaran ditelinga kita, apalagi ditelinga saya. Hehe. Sehingga, kesan dan energi kuat yang dibawa pepatah itu hanya angin saja. Cepat nan mudah terhempas.
Cara paling efisien untuk selalu mengingat pepatah keren ini adalah, gabungkan dan bayangkan pengorbanan mereka, orang-orang yang sudah menjadi keren terlebih dahulu. Para pelaku yang telah menorehkan tinta emas peradaban dunia.
Saya berterapi sekitar lima menit. Memejamkan mata. Mencoba tenang, kemudian
Saya sedang merasakan kekuatan kata-kata “Jangan menyerah!” bersamaan dengan mengingat perjuangan para ilmuwan dalam perjuangannya(Thomas A. Edison, dkk), tokoh anime(Naruto, Luffy, dkk), atau siapapun(tokoh keren pilihan dan favorit anda).
Sehingga, tubuh bergemetar dengan sendirinya, sedikit tapi pasti akan merasakan efek dari kata-kata itu, energi yang tersimpan disebaliknya.
Jika kau merasa ingin menyerah, ingatlah mengapa kau berusaha begitu lama. (Griezman – Atlet Sepakbola)
Dan semua quotes diatas bersumber pada reminder yang telah lama turun dari langit, agar disusun dengan sebaik kata, juga sesegar ungkapan. Sehingga menimbulkan semangat ketika membacanya.
… jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir.” (Q.S. Yusuf : ayat 87)
Salam semangat !   
Tangerang Selatan, Maret 2019
N. A. Fadhli

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Per Tak Hingga dan Perenungannya

Semenjak menjadi siswa, selama belajar di SMA, saya hanya menyimak dan menelan setiap rumus beserta hasilnya. Pentingnya, jika bagian ini-itu hafal, beres sudah. Jarang sekali kepo, apalagi penasaran darimana dan bagaimana mengetahui prosesnya. Salah satu contoh yaitu dalam menghapal definisi sederhana, 1/~ , 1/0, 0/0, dan teman-temannya, plus perenungan memahami mereka. Namun, kali ini mencoba agar sama-sama dibahas 1/~ (satu per tak hingga) yang hasilnya adalah nol. Karena, mungkin banyak yang sudah tahu bahwa 1/0 nilainya bisa menjadi dua jenis, bisa menjadi ‘tak terdefinisi’ atau ‘tak hingga’. Contoh : 1/10 = 0,1 1/1000= 0,001 1/100000 = 0,00001 1/10000000 = 0,0000001 dst. Tapi, 1/~ = 0 Kenapa? Dari contoh sudah didapatkan pola, bahwa jika satu dibagi sepuluh, hasilnya 0,1. Dan, satu dibagi sepuluh juta, hasilnya 0,0000001. Semakin dibagi dengan bilangan besar, hasil semakin mendekati nol. Tak hingga merupakan sesuatu yang tak berbatas. Sehingga, satu d...

Sejatinya, Kita Memang Seorang ‘Penulis’

Saya terlalu kagum, dengan orang-orang yang mengazamkan diri untuk menjadi penulis. Malah, semakin salut. Mereka memiliki antusias dan  ghirah  kuat dalam membaca, juga seluang waktu merangkai jutaan kata, sampai yang paling makna. Mereka senantiasa dahaga akan setetes telaga yang menjelma cahaya, sebaris pengetahuan. Sementara saya, dengan begitu sombong dan angkuhnya ingin menaiki panggung sastra tanpa tahu rumit dan luasnya dunia itu, kemudian berkelakar “ Aku ingin menjadi penulis “, atau mengaku “ Aku adalah seorang penulis “. Lalu berteriak gema, hingga dahaga. Bukan seperti mereka, haus untuk menerima setiap tetes cahaya. Tetapi saya hampa, haus karena keringnya hati yang kian gersang, karena sifat-sifat itu. Saya menulis karena memang mayoritas tulisan bersumber dari kisah pribadi. Tulisan yang lahir dari berbagai pengalaman hidup, beberapa bacaan, juga segelintir kontemplasi dan renungan. Neil Gaiman pernah mengatakan bahwa, “ Mulailah menulis sesuatu yang h...

Jurnal Seorang Penulis

Dari sekian ribu detik yang singgah dan berlalu, diantara kebisingan hingga kesunyian, aku baru tersadar. Ini tentang menulis, dunia kepenulisan,  something to tell , atau  something to share  atau apapun yang mereka sabdakan. Bahwa keresahan-keresahan yang selama ini begitu mengiris hati dan perasaan, entah kisah pribadi atau pengalaman orang lain, semua harus tumpah dalam satu wadah besar bernama “Tulisan”. Entah dibukukan atau tidak, itu urusan belakangan. Yang utama ada di situ, dan memang datang dari tempat yang suci itu, sebuah hasrat untuk berbagi kepada sesama. Memang, terkadang begitu sulit menyampaikan kisah paling epik. Satu set cerita yang akan dikenang. Apalagi yang bermanfaat. Apalagi dapat memberi pengaruh besar bagi seseorang, bagi banyak orang, hingga akhirnya mengubah peradaban. Maka dari itu, kuyakin kini kita sedang berlatih menulis.  Dan kita adalah penulis. Percayalah! kamu, aku dan kita semua berada dalam satu ruang besar bernam...

Kepercayaan adalah Bentuk Kepedulian dengan Harga Mahal

Ada yang bilang bahwa kepercayaan mudah digenggam. Hal tersulit di dalamnya yaitu mempertahankan kepercayaan. Dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah sebuah harga mahal. Bisa dibilang, kepercayaan merupakan sebuah mandat, diberikan kepada ia yang kuat dan mampu. Dalam urusan cinta, seseorang perlu memiliki komitmen agar dipercaya orang yang dikasihi. Selain itu, ia butuh seseorang untuk dipercaya. Ini akan melahirkan suatu pondasi yang kuat dalam hubungan asmara mereka. Mempercayai dan dipercaya. Ketika seorang lelaki yang telah membulatkan tekad, lalu menaruh kepercayaan penuh kepada perempuan yang dicintanya, tapi perempuan tersebut tidak percaya kepadanya. Lantas, lelaki ini pasti menurun motivasi dan semangatnya. Sebab orang yang dia percaya tidak mempercayai dirinya. Begitupun sebaliknya. Selanjutnya keluarga, sahabat, lalu kerabat kerja juga tidak mempercayai dirinya. Kepercayaan diri orang tersebut akan runtuh. Dunia seakan tidak membutuhkannya. Kita bisa menebak,...